Sebagai guru, salah satu kondisi yang tidak saya sukai adalah melihat murid saya galau. Penyebab galau mereka bisa macam-macam. Ada yang karena putus dengan pacar, lagi marahan, naksir cowok lain, atau jomblowati/jomblowan yang sedang naksir berat seseorang. Ada pula yang galau karena ada masalah di rumah, sedang lapar, tidak punya uang buat beli sebuah produk kecantikan, bahkan karena sedang fakir kuota dan wifi sekolah sedang low. Masih enak kalau yang galau satu dua dari seribuan siswa. Kalau pas banyak?

Salah satu gurauan favorit saya ketika menemukan murid galau adalah slogan 'produktifkan galaumu' atau 'boleh galau, asal produktif'. Nah, saya tidak mau dong kalau omdo alias omong doang a.k.a NATO (No Action Talk Only). Saat ini saya sedang galau, jadi harus saya berikan teladan bahwa dalam kegalauan, saya tetap produktif. Sebagai contoh: tulisan ini he he he.

Menurut saya, sebenarnya galau itu salah satu golden momen kita untuk produktif. Nggak percaya? Mari kita ambil contoh the Godfather of Broken Heart Didi Kempot. Dalam artikel di KOMPAS, saya membaca bahwa ia menulis sebagian lagu-lagu patah hati itu ketika dirinya sedang galau. Jadi selain lirik dan nada, feelnya juga dapat. Makanya itu lagu bisa nendang. Syukurlah jika saat ini kembali naik daun dan justru banyak dinikmati anak muda. Itu yang saya sebut galau produktif.
Bagaimana dengan saya? Yes, saya juga banyak menelurkan karya saat sedang dalam kegalauan. Salah satunya saat sedang galau dengan segala aktivitas blogging, instagram, youtube, dan berbagai media online lain, saya tuang dalam cerpen. Bagian awalnya ditulis semingguan, kemudian dieksekusi pada suatu pagi dan langsung dikirim mengikuti event 'Istirahat dari Pikiran' yang diselenggarakan penerbit Reybook. Beneran, selama ini itulah event paling nekad yang pernah saya ikuti, karena saya kirim karya tanpa persiapan maksimal. Alhamdulillah, jadi pemenang pertama.

So, dalam kegalauan saat ini, saya menasihati diri sendiri bahwa tidak ada alasan untuk larut dalam kegalauan dan tidak produktif. Mungkin suatu saat nanti saya galau lagi, saya punya catatan ini. Alhamdulillah jika bermanfaat juga bagi pembaca.

Apa sih rahasianya galau produktif? Sepertinya sederhana saja:

  1. Ingat bahwa kita hadir di dunia ini untuk sebuah alasan yang digariskanNya. Menjadi tugas kita menemukan alasan tersebut sebelum nyawa dicabut. *Semoga ketemu ya. Jadi, galau boleh. Tetapi jangan berlarut-larut. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Jikapun ternyata penyelesaian tidak bisa instant, setidaknya kita bergerak untuk menyelesaikan. Seringkali, proses itu sendiri merupakan langkah penyelesaian lho.
    Muhasabah itu perlu lho
  2. Ingat kembali tujuan kita memilih sesuatu. Dalam kasus saya di atas, pilihan untuk aktif di berbagai media. Dalam kegalauan itu, saya menemukan bahwa keaktifan saya di berbagai media tidak maksimal kebermanfaatannya. Pada titik tersebut, saya harus memilih akan fokus di mana. Saya merenung untuk kembali pada tujuan awal membuat blog TLD ini, tujuan akun instagram saya, tujuan akun youtube saya. Jadi, jika tidak memungkinkan aktif di semuanya, ya memang saya kan tidak fulltime. Pilih saja dimana yang mau diseriusi, yang lain secukupnya. 
  3. Produktif sesuai mood. Karena sedang galau, ya hari ini saya nulis sesuai kondisi. Kalau kalian hobinya beda, ya tuang saja. Kalau kamu suka nyerpen, ya bikin atuh cerpen galau. Kalau suka bikin puisi, buat saja. Cerpen dan puisi bisa dikirim ke surat kabar atau majalah. Jika dimuat dan dapat honor, bagaimana tidak bisa bilang bahwa galaumu produktif. Kalau suka melukis, saatnya buka koleksi cat dan tuang kegalauan. Siapa tahu kegalauanmu kelak akan menghias rumah seseorang dan dihargai mahal. Kalau suka bersih-bersih, datang atuh ke rumah saya. he he he. #peace.
  4. Jangan maksa. Kalau memang membuat karya dalam kondisi hati yang tidak menentu ternyata malah bikin frustasi, ya udah. Nggak usah maksa. Mending cari kegiatan lain yang bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. Kalau saya, saat ngadep word tidak membuat kegalauan mereda, biasanya saya tutup itu tab. Lalu putar film yang seru. Kalau ingin suasana yang lebih sib dan audio yang tentu lebih baik dari laptop, ya saya ke bioskop. Biarin dipandang aneh karena nonton sendiri. Toh pasti ada teman di dalam studio. he he he.
  5. Hari ini akan jadi sejarah, besok. Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu pula masalah yang sedang kita hadapi. Fokus pada proses dan penyelesaian, bukan pada menikmati galaunya. Ingat, walau kita galau, laut masih asin dan hujan tetap jatuh dari langit (baik langit beneran maupun langit-langit kamar wkwkwk).  

Punya tips seputar galau produktif? Ayuk sharing dengan menuliskannya di kolom. Siapa tahu itu bakal jadi proyek bersama kita.