Diselamatkan Oleh Kebun Kecil di Pojok Tempat Jemuran

Kebun mini di pojok tempat jemuran


Pertengahan Februari 2022, saya menjalani Isolasi Mandiri (isoman) karena terkonfirmasi positif. Untuk keselamatan bersama, saya langsung mengisolasi diri. Bagaimanapun, saya jelas membawa virus. Jika tetap menjalankan aktivitas di luar rumah dan berinteraksi dengan orang lain, bisa saja mereka tertular. 

Gejala-gejala yang saya alami ada sakit kepala, demam, batuk, pilek, rasa kelelahan meskipun tidak banyak aktivitas, persendian yang serasa putus, pegal-pegal, dan sakit tenggorokan. Ini jenis rasa sakit yang membuat menelan ludah saja enggan. Kayak dicekik gitu dipakai menelan air sekalipun. Situasi terburuk berlangsung dua hari dan syukurlah sudah berlalu. 


Ini yang disebut microgreen tapi kelewat seminggu wkwk

Isoman dijalankan sedikitnya sepuluh hari, mengikuti panduan dari DinKes. Dalam menjalaninya, saya tetap bekerja secara online. Alhamdulillah mendapatkan banyak tawaran pekerjaan kreatif sehingga hari-hari isoman tidak membosankan. Masalah saya hanya soal makanan. 

Biasanya, saya belanja sayur segar di pagi hari. Tetapi ini kan tidak bisa dilakukan saat isoman. Saya punya persediaan sayur, lemon, dan telur di kulkas tetapi hanya cukup untuk tiga hari pertama. 

Syukurlah, sejak sekitar setahun yang lalu Allah menginspirasi saya untuk suka berkebun. Awalnya sih, lebih untuk menantang diri sendiri melakukan hal baru. Sebagai informasi, saya tuh parah banget soal berkebun. Mungkin tidak punya kecerdasan natural. Masa pernah beli kaktus dan mati dalam beberapa bulan saja. Ini kaktus, Saudara-saudara. 

Lalu, saya juga bergabung di komunitas vegan. Meskipun saya memutuskan untuk tidak menjalankan pola hidup vegan secara penuh, tetapi saya menyadari efek bagusnya. Saya sadar menjalankan pola hidup sehat ini memerlukan banyak sayur segar. Saya mulai menanam dalam sebuah pot yang diisi dengan media tanam siap pakai. Di kota saya, media semacam ini mudah didapatkan secara ini kota Agropolitan. Saya memulai dengan yang mudah dan cepat panen, yaitu sawi daging. Mungkin Anda mengenalnya sebagai sawi sendok. 

Proses bertanam terus berkembang. Saat ini saya memiliki beberapa pot berbagai ukuran yang saya tempatkan di pojok tempat jemuran. 

Saya menanam bayam merah, bayam hijau, bayam Jepang, Selada keriting, daun bawang, Pegagan, sawi daging, mentimun, dan beberapa sukulent. 


Pegagan, tanaman paling sulit yang saya pernah tanam

Selama isoman, saya bisa memanen mereka setiap hari. Sawi daging bisa dicampurkan pada nasi goreng. Selada enak dimakan mentah. Enak pula dijadikan pembungkus nasi dan lauk, lalu dimakan bersama. Ala-ala Korea gitu. Daun bawang bisa ditambahkan pada omelet. Sayur bening bayam merah segar banget. Masih banyak lagi menu lain yang bisa dikreasikan. Tetapi lebih sering saya panen dalam bentuk microgreen (sayur berusia sekitar 14 hari sejak disemai) dan dimakan mentah. 

Sekarang saya menyadari sepenuhnya bahwa berkebun itu hobi yang sangat bermanfaat. Makanya saya merekomendasikannya kepada Teman-teman semua. Saya sarankan untuk memulai dari dua atau tiga pot yang diletakkan di dekat jendela untuk menanam beberapa jenis sayuran. Kita kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Memiliki tanaman seperti ini di rumah ternyata sangat membantu. Saya sudah membuktikan bahwa kebun kecil di pojok tempat jemuran seperti ini telah membantu menyelamatkan saya.  


Hasil panen: bayam Jepang, bayam hijau, bayam merah, daun mentimun (yang ini pahit banget. asli)


Bagaimana dengan Teman-teman?

Posting Komentar

0 Komentar